Psikolog Risna Rizania, Memupuk Empati Anak dengan Menyikapi Perbedaan

Sobat Female yang memiliki anak remaja atau saat melihat karakter anak-anak remaja di sekitarnya, tentu pernah menyaksikan bagaimana sikap emosionalnya yang masih rentan dengan kestabilan emosinya. Salah satunya adalah emosi yang sensitif yang menimbulkan perilaku negatif dalam caranya bersosialisasi, contohnya potensi aksi perundungan.

Menurut Psikolog Risna Rizania dalam acara sosialisasi anti perundungan di SMPN 32 Depok pada Februari 2025 menjelaskan bahwa perilaku negatif yang rentan terhadap usia remaja dipicu oleh fase pertumbuhan dalam membangun identitas diri, memperluas pertemanan, dan belajar memahami perbedaan dalam lingkaran pertemanannya tersebut. Supaya tidak terjadi aksi perundungan yang lebih luas, diperlukan pencegahannya dengan edukasi dari mulai pembentukan karakter baik di rumah maupun di lingkungan di sekolah.

Risna Rizania, M.Psi., Psikolog

Pemicu terjadinya aksi perundungan

Psikolog Risna Rizania memberikan pemahaman bahwa aksi perundungan adalah perilaku agresif yang dilakukan secara berulang dengan tujuan menyakiti atau merendahkan orang lain. Bentuknya bisa beragam, mulai dari fisik, verbal, pengucilan, hingga cyberbullying yang terjadi melalui media digital. Era digital yang tak memungkinkan teknologi dijauhkan dari aktivitas anak juga menjadi sebuah tantangan tersendiri karena akses yang mudah untuk menerima dan membagikan segala informasi yang berpotensi memicu aksi perundungan melalui ujaran kebencian maupun doxing.

“Dampak aksi perundungan dapat memengaruhi gangguan kesehatan mental dan fisik, menurunnya prestasi akademik, kecenderungan mengisolasi diri hingga karakter anak. Hal ini dapat terjadi pada korban maupun pelakunya.” Ungkap Psikolog Risna.

Data menunjukkan tren yang mengkhawatirkan. Kementerian Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak (KPPPA) mencatat lebih dari 11 ribu kasus kekerasan terhadap anak pada 2019, termasuk perundungan. Jumlah ini terus meningkat hingga tahun 2024, ketika Jaringan Pemantau Pendidikan Indonesia (JPPI) melaporkan 573 kasus kekerasan di lingkungan pendidikan, dengan 31% di antaranya terkait perundungan. Angka-angka ini menegaskan bahwa perundungan masih menjadi persoalan serius yang membutuhkan perhatian.

Meminimalisir perundungan dengan memupuk empati

Mencegah aksi perundungan salah satu kuncinya adalah dengan meningkatkan empati pada karakter anak sejak dini dan diperkuat pada saat anak remaja agar efek pembentukan karakter dalam memahami serta merasakan perasaan orang lain dapat dimaknai dengan sepenuh hati.

Psikolog Risna menjelaskan konsep empati melalui teori kecerdasan emosional yang cetuskan oleh Daniel Goleman yang terbagi dalam tiga jenis empati sebagai berikut:

1. Empati kognitif, kemampuan memahami sudut pandang orang lain dengan memahaminya lebih dalam karena akumulasi pengalaman dari berbagai kejadian yang dialaminya sendiri maupun dari hasil pengamatan terhadap orang lain.

2. Empati emosional, mengetahui konsekuensi terhadap suatu kejadian yang menyakitkan atau yang berpotensi menimbulkan luka terhadap orang lain, sehingga mampu memutuskan bagaimana untuk bersikap agar tidak berpotensi menambah luka atau perasaan yang tidak baik.

3. Empati peduli, dorongan untuk bertindak membantu orang lain tanpa pamrih.

Empati sangat berguna untuk diaplikasikan di lingkungan manapun dan sikap empati memberikan kepekaan perasaan dan dapat mencegah sikap-sikap negatif dalam kehidupan sosial. Salah satunya dapat mencegah aksi perundungan.

Cara menanamkan empati

Menanamkan empati memerlukan proses melalui latihan dalam bersikap di berbagai kehidupan sosial. Anak yang memiliki empati tinggi, biasanya terlatih untuk menjalankan tata krama dan dapat membedakan mana sikap baik dan buruk serta mampu mengolah komunikasi yang baik dalam kesehariannya.

Psikolog Risna mengungkapkan bahwa untuk memupuk empati adalah dengan cara berlatih untuk mendengarkan orang lain dengan baik, menempatkan diri di posisi orang lain, mengajarkan konsekuensi dari perbuatan dan membudayakan saling menolong dan peduli. Hal ini penting diterapkan sejak dini agar berdampak jangka panjang hingga anak dewasa dan dapat mewariskan sikap-sikap baiknya kepada generasi berikutnya.

Komitmen keluarga dan sekolah dalam mendukung budaya empati

Psikolog Risna menekankan setiap keluarga untuk menanamkan nilai-nilai empati dalam kehidupan sehari-hari di rumah. Hal sederhana misalnya membantu ibu di dapur, membantu ayah cuci mobil atau berkebun, membagi tugas-tugas bersama anggota keluarga hingga pekerjaan di rumah terasa ringan hingga saling memberikan dukungan sekecil apapun, misalnya bertanya kabar di hari yang telah dilewati atau apapun yang dapat saling meringankan.

Sedangkan untuk lingkungan sekolah, Psikolog Risna menganjurkan setiap sekolah untuk membuat kolaborasi terbuka dengan para penyelenggara sosialisasi anti perundungan atau edukasi-edukasi lainnya, agar sekolah menjadi rumah kedua untuk anak yang nyaman anti perundungan. Semua siswa ditanamkan sikap toleransi dan kesadaran dalam menyikapi perbedaan dengan bijaksana.

Setiap sekolah juga disarankan untuk memberikan edukasi melalui kampanye dengan berbagai media platform, seperti media sosial, poster dan lain-lain. Psikolog Risna juga menyarankan untuk setiap sekolah sebaiknya memiliki posko dan pendampingan psikologis dalam mengatasi aksi perundungan.

Komitmen Psikolog Risna Rizania dalam mencegah aksi perundungan

Risna Rizania, M.Psi., Psikolog menaruh kepedulian besar terhadap isu perundungan yang kini masih menjadi masalah besar dan tidak ada habisnya. Komitmen yang dilakukannya adalah dengan konsisten memberikan edukasi anti perundungan melalui berbagai kampanye sosial, konten media sosial hingga menuangkan gagasan dan pikirannya melalui dua buku yang baru diluncurkannya.

Buku karya Psikolog Risna Rizania

Buku-buku tersebut berjudul “Selamatkan Anak Kita! Panduan Orang Tua Melindungi Anak dari Bullying” dan Buku lainnya berjudul “Bebas dari Kecanduan Gadget dan Game. Panduan Orang Tua di Era Digital” yang didedikasikan untuk mengedukasi para orang tua agar memahami anak-anaknya secara emosi, sosial hingga sisi-sisi lainnya. Tujuannya adalah untuk melindungi anak melalui pemahaman orang tua di era digital agar dapat terus mendampingi dan membimbing anak agar terhindar dari berbagai bahaya di ruang digital. Selain itu, kehadiran buku-buku ini juga dapat memandu orang tua dalam menanamkan sikap-sikap baik untuk membentuk karakter berkualitas.

Psikolog Risna juga memperkuat komitmennya dalam menjunjung kesehatan mental dengan menghadirkan pelayanan psikologi klinis Psycorner Consulting yang berkantor di Kota Depok. Informasi lengkapnya dapat ditemukan di Instagram @psycorner.consulting.

Peran dan kontribusi seperti Psikolog Risna sangat dibutuhkan di banyak tempat, begitu pula dengan komitmennya dalam mencegah aksi perundungan melalui edukasi baik terhadap anak maupun orang tuanya. Langkah Psikolog Risna dapat menjadi teladan bagi semua pihak yang memiliki kapasitas untuk berkontribusi.