PARARA (Konsorsium Panen Raya Nusantara) menggelar PARARA Mini Festival 2025 pada 12-13 September 2025 dengan tema besar #CareEatLove di Taman Literasi Blok M, Jakarta Selatan. Gelaran yang fokus pada gerakan bersama untuk memperkuat UMKM, produsen lokal, dan komunitas adat dalam memperkenalkan produk unggulan daerah melalui promosi, capacity building, dan festival dua tahunan ini dilaksanakan sejak 2015 sebagai inisiatif dari Festival SLIMs (Sustainable Livelihoods Initiative and Models).
Hari pertama, pada 12 September 2025 Female Digest menghadiri Talkshow Literasi Pangan Lokal dengan tema “Peran Perempuan dalam Perhutanan Sosial untuk Mendukung Ketahanan Pangan” talkshow ini memberikan energi lebih bagi peserta yang hadir karena berbagai penjelasan yang diutarakan oleh ketiga Narasumber membukakan betapa pentingnya memperkuat pangan lokal dari sisi peran perempuan.
Mengapa peran perempuan sangat penting? Riska Agustina Afilla, selaku pendamping dari Perempuan Perhutanan Sosial (Pendamping PS) menjelaskan bahwa perempuan pada hakikatnya mampu menjadi agen perubahan sebagai pengelola sumber daya hutan dari mulai membudidayakan bahan baku pembibitan, mengelolanya hingga panen serta mengolahnya menjadi produksi pangan yang layak konsumsi. Perempuan juga berperan dalam upaya memasarkan produk tersebut.
“Oleh karena itu, sumber daya manusia dari sisi perempuan perlu diberdayakan melalui berbagai pembekalan dalam mengelola hasil hutan yang berkelanjutan.” Ujar Riska.

Penjelasan Riska didukung oleh Mardiansyah selaku Sekretaris KTH (Kelompok Tani Hutan) Mulya Sari, Cilangkap, Lebak, Banten yang mengemukakan begitu banyaknya potensi hutan yang dapat dikelola oleh para perempuan yang memiliki kapasitas waktu, kemampuan dalam pengelolaan yang lebih jeli, dan memiliki banyak jejaring untuk akses pasar, belum maksimal diarahkan pada program kerja yang lebih terorganisir dan terstruktur.
Mardiansyah berharap dengan hadirnya FKKM (Forum Komunikasi Kehutanan Masyarakat) yang merupakan lembaga multipihak yang berperan mengawal kehutanan masyarakat dapat mewujudkan visi misinya sebagai pihak yang bertanggung jawab atas sumber daya alam melalui pengelolaan hutan yang transparan dan bertanggung jawab.
Riska menambahkan bahwa peran perempuan dalam upaya mengelola sumber daya hutan tersebut harus didukung dengan berbagai regulasi yang dapat melindungi perempuan pada saat menjalankan perannya tersebut. Misalnya, dari sisi keamanan dan perolehan pembekalan baik sarana dan prasarana yang memadai juga edukasi yang komprehensif. Hal ini bertujuan untuk meminimalisir segala hambatan selama perempuan menjalankan perannya di hutan.
Pengelolaan hasil hutan agar memperoleh nilai jual dan memiliki pasar yang luas, Karnelis selaku Ketua Pakebucu (Pasukan Kelompok Butuh Cuan) dari KUPS (Kelompok Usaha Perhutanan Sosial Perempuan) LPHD (Lembaga Pengelola Hutan Desa) berhasil menggerakkan kelompok ibu di lingkungan terdekatnya untuk membuat usaha rumahan seperti mengolah pisang hasil hutan dijadikan aneka kudapan ringan, salah satunya keripik pisang yang disalurkan ke beberapa warung. Karnelis mengungkapkan berbagai tantangan yang dihadapi oleh anggota binaannya mencakup permodalan yang kurang memadai karena rantai pasok yang masih terbatas dan inovasinya belum terlalu digali. Menurut Karnelis, Kelompok Pakebucu masih memerlukan pendampingan dari sisi edukasi dan praktik UMKM dari berbagai pihak.
PARARA Mini Festival menjadi wadah untuk mempromosikan kegiatan yang perlu didukung dari sisi pemberdayaan UMKM dan membagun kesadaran publik dalam pengelolaan sumber daya alam hutan dengan lebih baik lagi. Melalui festival dua tahunan ini, ada banyak harapan yang terus digaungkan dalam upaya merawat bumi dan mendorong gaya hidup yang lebih bijak, sejalan dengan kekayaan budaya dan pangan Indonesia. Khususnya mendukung peran perempuan yang potensial dalam mendukung pengelolaan sumber daya alam hutan dengan prinsip berkelanjutan.