Oleh: Geofakta Razali
Di era postmodern, perempuan tidak lagi harus tunduk pada definisi tunggal tentang cantik, kuat, atau sukses. Yang harus kita waspadai justru saat ’empowerment’ diproduksi sebagai citra, karena di baliknya bisa tersembunyi kuasa baru yang lebih halus namun membelenggu.
Belakangan menjamur Influencer perempuan di layar ponsel kita. Saya temukan mereka hampir setiap kali membuka media sosial: ada yang membagikan tips sukses, ada yang menceritakan pengalaman pahitnya dengan pasangan, ada pula yang seolah menjual paket lengkap tentang bagaimana menjadi “perempuan ideal” di zaman modern. Contohnya, seorang Influencer bisa dengan percaya diri menyatakan bahwa “real man itu harus begini”, atau bahwa perempuan kuat adalah mereka yang berhasil survive dari hubungan toksik lalu bangkit dengan penuh glamor. Sekilas, narasi ini tampak progresif. Namun jika ditelusuri, empowerment yang ditawarkan seringkali lebih menyerupai persona yang dipoles, bukan substansi yang membebaskan.
Saya menulis ini sebagai seorang laki-laki. Dan saya sadar, posisi itu penting untuk saya sebut di awal. Karena terlalu lama, diskursus tentang perempuan hanya dikuasai oleh perempuan yang pada akhirnya tetap tidak menjangkau kognisi laki-laki, atau potensi diskusi di media oleh laki-laki yang merasa paling tahu. Saya tidak ingin jatuh ke jebakan itu. Tetapi saya juga percaya, dukungan dari laki-laki yang reflektif bisa menjadi relevan ketika kita bicara tentang empowerment perempuan. Konteksnya sederhana: saya bukan hendak mengajari, melainkan menegaskan bahwa saya berdiri di barisan mereka yang ingin melihat perempuan benar-benar merdeka dari narasi semu yang menjerat.
Fenomena ini bagi saya menarik sekaligus membingungkan. Menarik, karena ada banyak perempuan yang akhirnya berani bersuara, membangun panggungnya sendiri, dan menginspirasi ribuan pengikut. Tapi membingungkan, karena standar yang mereka hadirkan justru kerap tidak realistis. Misalnya, kecantikan direduksi pada kulit yang flawless, kesuksesan diukur dari frekuensi liburan ke luar negeri, dan kemandirian disimbolkan dengan deretan tas branded. Padahal realitas perempuan Indonesia lebih berlapis: ada yang bekerja di pabrik, ada yang merawat keluarga sendirian, ada yang berjuang melawan diskriminasi di lingkungannya. Semua itu jarang terlihat di layar kaca digital.
Contohnya sederhana: seorang ibu tunggal yang berjualan sayur di pasar demi menyekolahkan anaknya mungkin jauh lebih berdaya ketimbang Influencer yang bercerita tentang “bangkit dari keterpurukan” dengan sponsor produk mewah. Namun algoritma lebih menyukai cerita yang dramatis dan fotogenik, bukan yang otentik dan membumi. Di titik inilah saya mulai bertanya: apakah kita sedang menyaksikan empowerment perempuan yang sejati, atau sekadar konsumsi persona yang dirancang agar viral?. Pertanyaan ini penting, sebab mendukung perempuan berdaya berarti juga berani mengkritisi narasi semu yang justru membatasi.
Dalam psikologi komunikasi, ada konsep social comparison theory (Festinger, 1954). Manusia menilai dirinya dengan cara membandingkan dengan orang lain. Influencer perempuan, sadar atau tidak, hidup dari logika ini. Mereka menciptakan jarak visual yang membuat audiens merasa “ingin seperti mereka”. Namun alih-alih memotivasi, seringkali yang muncul adalah toxic comparison: inspirasi yang berubah jadi intimidasi. Bukan “saya juga bisa”, melainkan “saya selalu kurang.”
Kalau kita susun dalam silogisme sederhana, empowerment mestinya adalah kebebasan memilih → Influencer mendefinisikan pilihan secara sempit → maka yang lahir bukan kebebasan, melainkan kurungan baru. Kurungan yang dibungkus dengan kata “bebas” jauh lebih sulit disadari ketimbang kurungan yang jelas-jelas berupa larangan. Kita tidak lagi diperintah secara kasar, melainkan diarahkan dengan “inspirasi” yang penuh jebakan halus.
Pikiran manusia sering terbelenggu oleh mitos yang dianggap logis. Jika dulu mitos hadir dalam dongeng atau dogma, kini mitos itu hadir dalam bentuk feed Instagram dan TikTok. Ia membuat banyak orang percaya bahwa ada satu cara hidup yang sahih: cantik, kaya, mapan, dengan pasangan sempurna. Seolah-olah, tanpa memenuhi template itu, seorang perempuan tidak layak disebut kuat. Padahal empowerment sejati mestinya plural, cair, dan menghargai keragaman jalan hidup. Sebagai seorang laki-laki, saya merasa perlu mengangkat isu ini. Karena narasi Influencer seringkali menempatkan perempuan dalam relasi dengan laki-laki. Kita sering mendengar: “Real man itu begini, perempuan hebat itu begitu…” Narasi semacam ini berbahaya. Ia menggeser makna empowerment menjadi validasi: perempuan berharga karena “dipilih” laki-laki tertentu, bukan karena ia manusia utuh. Dukungan saya terhadap perempuan berdaya berdiri di titik sebaliknya: perempuan berharga karena ia ada, karena ia berjuang, karena ia bebas menentukan jalan hidupnya.
Dalam studi media, kita mengenal istilah pseudo-empowerment. Itu adalah konten yang tampak progresif tetapi sesungguhnya meneguhkan norma lama. Influencer yang berbicara tentang “bebas menjadi diri sendiri” seringkali tetap menjual tubuh homogen: langsing, putih, mulus. Mereka yang bicara tentang kesuksesan tetap mengaitkannya dengan konsumsi. Hasilnya, empowerment direduksi menjadi estetika: foto cantik, caption bijak, gaya hidup mapan. Yang berubah hanya bungkus, bukan isi. Analogi sederhana bisa membantu: empowerment sejati itu seperti air. Ia mengalir ke mana saja, memberi hidup pada siapa pun yang disentuh. Tetapi dalam praktik sebagian Influencer, empowerment ibarat air yang ditaruh dalam gelas kristal. Indah dilihat, mahal harganya, tetapi hanya bisa disentuh segelintir orang. Air tetap ada, tetapi tidak menghilangkan dahaga kebanyakan orang.
Mari kita bicara soal framing. Influencer memilih realitas yang ditampilkan: sisi indah, mewah, effortless. Jarang ada ruang untuk luka mentah, kegagalan, atau kompromi. Padahal realitas perempuan yang berdaya sering kali justru ada di ruang-ruang yang tak fotogenik: pekerja rumah tangga yang gigih, aktivis yang melawan diskriminasi, atau pelajar yang bertahan di tengah keterbatasan. Jika framing hanya menampilkan satu rupa, audiens akan terjebak pada kesimpulan palsu: bahwa kuat berarti harus seperti mereka.
Di sinilah pentingnya literasi media. Empowerment digital perlu disaring dengan kacamata kritis: mana yang benar-benar membuka jalan, mana yang sekadar menghadirkan persona semu. Definisi operasional empowerment mestinya jelas: membebaskan perempuan untuk memilih, merdeka dari standar eksternal, dan jujur merepresentasikan diri. Jika sebuah konten justru menambah beban, membuat audiens merasa rendah diri, maka itu bukan empowerment. Itu hanyalah pemasaran rasa takut.
Sekali lagi, sebagai laki-laki, saya menulis ini bukan untuk mengambil alih wacana perempuan, melainkan untuk menegaskan posisi: bahwa mendukung perempuan berdaya berarti juga mengkritisi jebakan digital yang menyaru sebagai motivasi. Empowerment tidak boleh berhenti di layar, ia harus terasa di tubuh, di pilihan, di hidup sehari-hari. Karena bagi banyak perempuan, perjuangan bukan soal estetika, melainkan soal bertahan hidup.
Akhirnya, saya ingin menutup dengan refleksi Tan Malaka yang relevan hingga hari ini: “kemerdekaan berpikir adalah jalan menuju kemerdekaan hidup.” Maka, mendukung perempuan berdaya berarti membebaskan mereka dari mitos, termasuk mitos digital yang hadir di balik layar ponsel kita. Empowerment bukan sekadar persona semu, melainkan keberanian untuk menentukan arah hidup tanpa harus tunduk pada standar yang dibuat orang lain. Dan bagi saya, itulah bentuk dukungan paling jujur: berdiri di samping, bukan di atas, serta membuka ruang agar suara perempuan terdengar apa adanya.
Dr. Geofakta Razali, S. Psi, S. I. Kom, M. I. Kom, C.Ht
Pakar Psikologi Komunikasi London School of Public Relations
(Editor: Hanisah Sukmawati | Redaksi Female Digest)