Menciptakan Lingkungan Inklusif di Sekolah dengan Fondasi Komunikasi

Ikatan anak dengan keluarga di rumah akan memberikan kekuatan mental anak pada saat menghadapi berbagai dinamika kehidupan di luar rumah. Begitu pula ikatan anak dengan para guru, teman-teman hingga semua individu yang berada di lingkungan sekolah anak, tak kalah penting harus dibangun hubungan yang positif.

Potensi berbagai masalah yang harus dihadapi anak di manapun tempat aktivitasnya, anak perlu dibekali kemampuan untuk memutuskan sesuatu yang tepat, bersikap dan menerapkan empati.

Menjawab kebutuhan edukasi dan bimbingan terhadap anak-anak Indonesia sebagai generasi penerus maka Komunitas “Teman Ibu Aling” berinisiatif berbagi solusi dengan SDN Bakti Jaya 5 Depok dengan menyelenggarakan sosialisasi anti bullying bertema “ Membangun Lingkungan Inklusif. Guru & Orang Tua Sebagai Support System” dengan audiens para orang tua murid dan semua murid kelas empat hingga enam.

Teman Ibu Aling menggandeng Narasumber ahli yaitu Galuh Kencono Wulan, M.Psi., Psikolog, Dita Kusuma Hapsari, M.I.Kom dan Arsella Qandariyah. Tiga Narasumber ini dihadirkan sebagai penguatan dan bekal bagi para peserta agar mampu berkomunikasi dengan baik antara anak-anak dan orang tua juga anak-anak dan semua individu yang ada di sekolah.

Menurut Lydia Natasia, salah satu Founder dari Komunitas Teman Ibu Aling, menjelaskan bahwa pengayaan adalah berupa pemaparan materi sumber ahli psikolog sebagai asesmen, bahasan etika dan literasi digital yang dapat menjadi dasar untuk memahami bahwa hubungan sosial diperlukan penguasaan komunikasi yang tepat. Lydia juga menegaskan bahwa sekolah bukan sekadar tempat belajar dan mengajar saja namun harus menjadi tempat ruang untuk bertumbuh. Oleh karena itu, Komunitas Teman Ibu Aling terus berkolaborasi dengan berbagai pihak sebagai upaya menciptakan generasi penerus tanpa perundungan.

Menjadi Teman Terbaik Sejati Anak

Galuh Kencono Wulan, M.Psi., Psikolog

Psikolog Galuh menekankan sikap bagi para orang tua agar selalu terkoneksi dengan anak sebelum mengoreksi hal-hal yang tidak sesuai. Pertama yang harus dilakukan adalah menjadi teman terbaik bagi anak karena di abad ini tantangan yang dihadapi anak-anak begitu kompleks, mulai dari goncangan akibat persaingan, pergolakan perasaan, proses adaptasi di lingkungan hingga informasi melimpah yang perlu disaring.

Berbagai tantangan yang dihadapi anak tersebut dapat menimbulkan kebingungan yang terakumulasi menjadi rasa frustasi, depresi, imfulsif, adiksi, tidak fokus dan ketergantungan.

Langkah untuk menjadi teman anak yang baik, menurut Psikolog Galuh, orang tua selayaknya mengenali kebutuhan anak, setelah itu bangun hubungan yang pasti dan aman yang akan membentuk kolaborasi pengasuhan dan pendampingan. Membangun hubungan berkualitas dengan anak, Psikolog Galuh menyarankan kepada setiap orang tua untuk selalu memberikan baterai kasih sayang berupa ungkapan kata pendukung, pemberian apresiasi terhadap pencapaian anak sekecil apapun dan melibatkan banyak hal agar dapat saling mengenal. Jika sudah mengenal lebih dalam sifat dan karakter anak maka proses penyampaian informasi dan komunikasinya pun akan lebih mudah disampaikan.

Sebagai upaya untuk mengetahui kecerdasan anak, Psikolog Galuh juga menekankan kepada setiap orang tua untuk tidak hanya terpaku pada satu kecerdasan yang dianggap umum saja, seperti terfokus hanya kecerdasan akademik. Kenali juga 9 kecerdasan anak yang terdiri dari bermusik, bersosialisasi, berbahasa, kemampuan spasial, berlogika, kinestetik, eksistensial, naturalis dan intrapersonal. Jadi, pada saat anak kurang mampu dalam satu bidang, bisa jadi anak mampu dalam bidang lainnya.

Psikolog Galuh juga memberikan panduan dalam membangun hubungan yang pasti melalui 7 pilar berikut ini:

1. Apresiasi & kasih sayang, contohnya sesederhana mengucapkan terima kasih atas masakan ibu, ungkapan apresiasi terhadap anak yang berhasil mengerjakan tugas atau mau membantu bersih-bersih rumah atau sekadar menjadi pendengar yang baik untuk anggota keluarga lainnya yang sedang bercerita.

2. Komunikasi yang positif, menyampaikan perbedaan pendapat dengan cara yang asertif dan santun serta berinteraksi dalam keseharian.

3. Komitmen pada keluarga, saling memberikan kepercayaan dan mengutamakan prioritas keluarga, contohnya berusaha menepati janji dan menjaga nama baik keluarga. Baik anak maupun orang tua sebaiknya dapat membiasakan diri untuk memperkuat komitmen terhadap berbagai hal yang telah ditentukan bersama.

4. Waktu yang menyenangkan bersama, menciptakan quality time yang berkelanjutan.

5. Kesejahteraan spiritual & nilai bersama, keluarga selalu menjadikan agama sebagai dasar dalam menjalani seluruh aspek kehidupan termasuk di dalamnya soal etika, moral dan empati yang dijunjung tinggi.

6. Kemampuan mengelola krisis, sebuah keluarga yang mampu menghadapi tantangan dengan menghadapinya secara musyawarah mufakat dalam berkumpulnya keluarga, selain bisa mendapatkan solusi lebih mudah juga dapat menjadikan kesempatan tersebut sebagai memperkuat hubungan antar anggota keluarga.

7. Keterhubungan sosial, menjalin hubungan baik dengan tetangga dan lingkungan sekitarnya dengan menumbuhkan empati dan aktif terlibat dalam berbagai kegiatan sosialnya. Dari kebiasaan ini maka seluruh anggota keluarga akan lebih peka dalam menumbuhkan kepedulian kepada sesama.

Membangun Anak Berkarakter di Era Digital

Selanjutnya dari Akademisi Dita Kusuma Hapsari, M.I.Kom memberikan pengayaan adab dan etika dalam kehidupan sehari-hari yang harus seiring sejalan baik anak maupun orang tuanya.

Menurut Dita, komunikasi adalah merupakan salah satu pilar terpenting dalam membentuk etika dan moral yang baik. Dengan berkomunikasi yang tepat, baik anak maupun orang tua dapat menyampaikan aspirasinya lebih objektif tanpa memberikan kesan negatif pada lawan bicara.

Dita mencontohkan pemilihan kata yang tidak menyinggung lawan bicara, misalnya mengganti kata “Kamu bodoh” menjadi “Ayo, kita coba cara lain supaya lebih mudah.”

Bahasa tubuh juga tak kalah penting dalam menyampaikan sesuatu untuk memperkuat maksud dan tujuan informasi yang disampaikan tersebut agar lebih mudah dipahami dan memberikan kesan bagi lawan bicara.

Karakter anak di era digital pun wajib disaring mengingat melimpahnya informasi dapat membuat anak tidak fokus dan cenderung impulsif dalam menerima informasinya. Oleh karena itu, Dita menyarankan orang tua menerapkan screen time dan pendampingan dalam penggunaan gadget oleh anak.

Dalam penutupnya, Dita juga menekankan bahwa murid yang baik selalu memiliki keterbukaan dalam berkomunikasi dengan guru dan individu-individu yang ada di lingkungan sekolah. Contoh perilaku yang baik murid terhadap guru adalah mendengarkan saat guru menjelaskan materi pelajaran serta menyimak dengan baik. Jika ingin bertanya, angkat tangan terlebih dahulu namun tunggu sampai guru selesai menjelaskan. Begitu pula jika ingin ke luar kelas karena suatu keperluan atau lupa mengerjakan tugas, wajib berkomunikasi untuk minta izin dan menjelaskan dengan baik alasannya.

Menurut Dita, didikan etika dan moral anak harus beriringan baik di rumah maupun  di sekolah, hal ini tentunya menjadi tanggung jawab orang tua didukung oleh guru di sekolah dan kedua belah pihak dapat saling berkoordinasi untuk memantau kondisi anak.

Membangun Kesadaran Literasi Digital Untuk Orang Tua

Arsella Qadarindah

Materi terakhir dari Arsella Qadarindah yang lebih dikenal dengan nama Sellaoncel memberikan pengayaan literasi digital untuk orang tua, dengan tujuan agar para orang tua murid dapat memahami seluruh aspek dan fitur digital untuk digunakan tanpa hambatan dan kerugian akibat kurangnya pengetahuan literasi digital yang baik.

Arsella memandu para orang tua untuk menggunakan aplikasi-aplikasi yang dapat mengontrol aktivitas anak dalam gadget tanpa diketahui anak langsung sehingga akan memudahkan pengawasan. Selain itu, Arsella juga memberikan panduan agar terhindar dari hacker dan berbagai penipuan melalui aktivitas digital.

Selain untuk para orang tua, Arsella juga memberikan pengayaan untuk para murid yang hadir, fokus pada bagaimana memanfaatkan media sosial sebagai sarana untuk menuangkan karya dan saling berbagi informasi bermanfaat. Selain itu, Arsella juga menekankan pentingnya etika dan tata cara bermedia sosial yang bijak.

SDN Bakti Jaya 5 Depok Menerima Kolaborasi Terbuka

Kepala Sekolah, Guru dan Tim Komunitas Ibu Aling

Kepala Sekolah SDN Bakti Jaya 5 Depok, Sri Lestari, M.Pd membuka kolaborasi sosialisasi untuk kebaikan bersama dengan tujuan untuk mencetak generasi penerus berkualitas yang berkarakter dan berdaya saing. Oleh karena itu, bagi pihak manapun  yang ingin berkontribusi untuk membangun generasi penerus berkualitas dapat bersama-sama membangun program sosialisasi berkelanjutan bersama SDN Bakti Jaya 5 Depok.