Dua dekade setelah kemunculan perdananya, Miranda Priestley kembali hadir dengan tatapan tajam dan karakter dingin yang masih begitu ikonis. Sekuel yang paling dinanti, The Devil Wears Prada 2, akhirnya resmi mendarat di layer lebar Indonesia dan kembali membawa penonton menyelami dinamika dunia fashion media yang glamor sekaligus penuh tekanan.
Namun, pertanyaan besarnya kini muncul: apakah sekuel ini berhasil mempertahankan tahta legendaris yang telah dibangun pada film pertamanya, atau justru hadir sebagai pengingat bahwa standar The Devil Wears Prada begitu tinggi untuk disaingi?
Untuk Sobat Female, kehadiran film kedua ini bukan sekadar nostalgia, melainkan juga ujian besar bagi sebuah franchise fashion paling ikonis di layar lebar, mampukah ia menyamai, atau bahkan melampaui, pencapaian film pertamanya? Mari simak ulsanannya di bawah ini.
Kembalinya Sang Ikon Fashion
Kehadiran Merly Streep sekali lagi membuktikan bahwa waktu hanyalah sebuah konsep. Begitu ia melangkah masuk ke panggung seni peran sebagai Miranda Priestly, rasanya seperti tidak pernah ada jeda selama dua dekade terakhir. Aura intimidatif, komentar sarkistik, hingga tatapan tajam yang menjadi ciri khasnya tetap hadir dengan intensitas yang sama.
Miranda Priestly masih menjadi sosok powerful yang mengendalikan ruangan tanpa perlu meninggalkan suara. Dan menariknya, Merly Streep berhasil memerankan karakter ini dengan begitu natural, seolah ia tidak pernah benar-benar melepaskan stiletto ikonis Miranda Priestly selama 20 tahun terakhir.
Di luar dialog yang tajam dan tensi dunia fashion media yang kembali dihidupkan, aspek wardrobe tetap menjadi pusat perhatian. Salah satu fashion highlight yang paling mencuri perhatian redaksi Femaledigest adalah tassel jacket dari koleksi Dries Van Noten Fall/Winter 2025 yang dikenakan Miranda Priestly.
Koleksi yang dikenakan tampak dramatis, berkarakter, dan penuh statement, tampilan itu terasa seperti perpanjangan sempurna dari pesona Miranda Priestly. Sebuah pengingat bahwa selera fashion sang legendaris tetap on point dan relevan, bahkan di tengah perubahan zaman.

Lemari Pakaian Nostalgia dan Momen Paling Mengharukan
Sobat Female tentu masih mengingat monolog legendaris Miranda Priestly tentang cerulean blue yang hingga kini menjadi salah satu dialog paling ikonis dalam sejarah film fashion. Dalam The Devil Wears Prada 2, momen tersebut dihadirkan kembali lewat cara yang terasa manis sekaligus sophisticated.
Film ini memberikan tribute yang subtle namun stylish melalui penampilan Andy Sachs yang kembali mengenakan knit biru langit ikonisnya. Kali ini, busana tersebut diimajinasikan menjadi rompi tanpa lengan dengan siluet yang jauh lebih modern dan polished, sebuah interpretasi baru terasa relevan dengan perjalanan karakter Andy Sachs hari ini.
Menariknya, look tersebut muncul pada momen emosional di akhir film, tepat setelah Andy Sachs dan Miranda Priestly bekerja sama menyelamatkan Runaway. Pilihan wardrobe ini terasa begitu simbolis: Andy Sachs tetaplah seorang jurnalis di hati, tetapi kini ia memahami fashion bukan sekadar pakaian, melainkan bahasa, identitas, dan kekuatan budaya pop itu sendiri.
Tentu saja, kembalinya Nigel menjadi salah satu momen yang paling dinantikan penonton. Ketika Nigel mengucapkan kalimat, “Always my girl,” kepada Andy Sachs, suasana bioskop langsung berubah hangat. Hampir seluruh penonton spontan mengeluarkan suara kagum secara bersamaan, sebuah reaksi yang terasa begitu tulus.
Di tengah gemerlap fashion, drama media, dan tensi dunia editorial, Nigel sekali lagi membuktikan dirinya sebagai bintang sebenarnya dari film yang mencuri hati semua orang.
Relevan dengan Realitas Industri Fashion Media
Di balik seluruh kemewahan wardrobe dan nostalgia yang ditawarkan, inti dari The Devil Wears Prada 2 sesungguhnya terasa cukup emosional. Film ini memperlihatkan perjuangan Miranda Priestly dalam mempertahankan relevansi di tengah dunia media cetak yang terus tergerus sama perubahan zaman.
Industri kini bergerak sangat cepat menuju digitalisasi, ketika angka, engagement, dan profit perlahan menjadi prioritas utama dibandingkan romantisme seni fashion itu sendiri. Runaway tidak lagi berbicara tentang editorial yang indah atau selera tinggi, tetapi juga tentang bagaimana bisa bertahan di tengah lanskap media yang semakin kompetitif dan instan.
Menariknya, film ini berhasil menangkap keresahan tersebut dengan cukup tajam: bagaimana caranya tetap menjadi The Miranda Priestly di dunia yang tidak lagi secara otomatis memberi ruang bagi figur otoritatif dengan standar setinggi dirinya. Ada lapisan kerentanan yang kali ini terasa lebih manusiawi, tanpa menghilangkan aura intimidating yang sudah melekat begitu kuat pada karakter Miranda Priestly.
Kekuatan lain film ini terletak pada konsistensi para karakternya. Mereka hadir sebagai versi yang lebih dewasa dan reflektif, tetapi tetap setia pada esensi yang membuat penonton jatuh cinta sejak film pertama. Dan mungkin disitulah letak daya Tarik tersbesarnya, bukan sekadar menghadirkan nostalgia, melainkan menunjukkan bagaimana dunia fashion, media dan orang-orang di dalamnya ikut bertumbuh bersama waktu.

Hadirnya Para Bintang Ternama dan Ragam Wardrobe yang Mencuri Perhatian
Bicara tentang wardrobe, Sobat Female harus mengakui bahwa Simone Ashley menjadi salah satu scene-stealer melalui deretan look yang ia tampilkan sepanjang film. Karakter yang ia perankan hadir dengan pendekatan fashion yang polished, bold dan sangat aware terhadap tren, berbanding terbalik dengan gaya Andy Sachs di masa awalnya sebagai asisten Miranda Priestly yang dahulu identik dengan layering canggung dan pilihan busana yang belum menemukan identitasnya.
Setiap penampilan Simone Ashley terasa seperti representasi generasi baru industri fashion, lebih fearless, sleek, dan memahami bagaimana pakaian dapat menjadi alat komunikasi personal sekaligus simbol status sosial di era digital.
Tak hanya kuat dari sisi styling, The Devil Wears Prada 2 juga benar-benar dipenuhi jajaran cameo yang memanjakan mata para pecinta fashion dan pop culture. Film ini menghadirkan kemunculan nama-nama besar dari inudstri fashion, seperti Domenico Dolce, Stefano Gabbana, hingga Donatella Versace, yang semakin menguatkan atmosfer dunia luxury fashion yang terasa begitu autentik.
Menariknya lagi, kejutan juga datang dari luar industri fashion. Kehadiran Lady Gaga hingga Amelia Dimoldenberg memberikan sentuhan pop culture yang segar dan relevan dengan generasi penonton hari ini, membuat film ini terasa bukan hanya sekuel, tetapi juga sebagai potret baru tentang bagaimana fashion kini hidup berdampingan dengan dunia entertainment dan internet culture.
Antara Nostalgia dan Realitas Baru
Jika ada satu catatan yang perlu diberikan untuk film The Devil Wears Prada 2, mungkin terletak pada dinamika romansa Andy Sachs dengan love interest barunya yang terasa kurang chemistry kuat. Hubungan tersebut sesekali tampak hadir hanya sebagai pelengkap narasi, alih-alih menjadi elemen emosional yang benar-benar minanggalkan Kesan mendalam.
Namun di luar itu, film ini tetap berhasil mempertahankan daya Tarik khas-nya dengan dialog-dialog tajam penuh komentar sarkastik, humor cerdas, hingga berbagai callback ikonis ke film pertama menjadi fan service yang terasa menyenangkan tanpa terlihat berlebihan.
Yang membuat sekuel ini bekerja dengan baik adalah kemampuannya menjaga keseimbangan antara nostalgia dan realitas industri modern. Film ini tidak sekadar menjual kenangan masa lalu, tetapi juga mencoba membaca perubahan dunia fashion media hari ini, mulai dari pergeseran budaya kerja, dominasi digital, hingga cara generasi baru memandang fashion dan kekuasaan.
Terakhir, film ini tidak berusaha menyalip kejayaan film pertamanya. Namun, justru di situlah kekuatannya. Ia hadir sebagai sekuel yang memahami warisan yang dimilikinya, sambil tetap relevan dengan zaman yang terus bergerak maju.
Buat Sobat Female merindukan dunia fashion media yang glamor, penuh drama, sekaligus serat nostalgia, maka The Devil Wears Prada 2 adalah film wajib yang masuk watchlist akhir pekan ini.
| Sumber Foto: Pinterest
(Jurnalis: Yopi Saputra | Redaktur : Hanisah Sukmawati)