Tobatenun adalah fashion brand dan kerajinan tekstil yang dikenal dengan semangat pelestarian budaya Batak, khususnya warisan ulos melalui pendekatan desain yang modern, relevan, dan berkelanjutan. Setiap karyanya menghadirkan interpretasi baru terhadap tenun Batak, sehingga tetap setia pada akar tradisi namun selaras dengan selera fashion masa kini.
Selain fokus pada desain, Tobatenun juga mengedepankan pemberdayaan perempuan pengrajin, karena sebagian besar proses pembuatan tenun Batak ditangani oleh para perempuan di komunitas lokal. Mereka tidak hanya menjaga tradisi, tetapi juga pilar ekonomi keluarga. Melalui ekosistem kerja yang adil dan berkelanjutan, Tobatenun memastikan warisan budaya tetap hidup sekaligus membuka peluang yang lebih baik bagi para perempuan pengrajin.
Tahun ini Tobatenun mengangkat tema MAULIATE, yaitu sebuah perayaan akhir tahun yang dirancang bukan hanya sebagai penutup tahun, tetapi sebagai ruang syukur yang berakar pada budaya Batak. Konsep acara MAULIATE terinspirasi dari Gotilon, sebuah tradisi Batak yang mengucap syukur atas hasil panen yang dituai.
Esensi dari Gotilon diterjemahkan pada presentasi dan dekorasi yang mencerminkan keberagaman botani tropikal sebagai sumber kehidupan, pangan, dan kesuburan. Setiap elemen dirancang untuk menghidupkan kembali hubungan manusia dengan alam, layaknya ungkapan rasa sykur dalam tradisi leluhur.

Perayaan yang menggabungkan fashion, kolaborasi kreatif, pemberdayaan perempuan, dan suasana kekeluargaan sebagai cara Tobatenun mengajak masyarakat mengenal sisi hangat dari budaya Batak yang sering terlewat dari perhatian publik. Selain menghadirkan momen selebratif, MAULIATE juga menawarkan pengalaman yang lebih mendalam, bukan sekadar euforia, tetapi refleksi tentang rasa syukur, kebersamaan, dan budaya yang terus hidup.
“Biasanya kita suka bikin end year celebration. Tapi rasanya ingin membuat sesuatu yang nggak cuma party. Sekalian pengenalan tentang festival Gotilon. Caranya lebih modern, menggabungkan Gotilon, end year dan kolaborasi dengan landlord kita,” ungkap CEO Tobatenun, Kerri Na Basaria Pandjaitan dalam konferensi pers MAULIATE di Solo Del Tower, Jakarta Selatan, Kamis (4/12/2025).
Bagi sang pemilik brand Kerri, MAULIATE bukan sekadar acara publik. Ia membayangkan bahwa setiap tamu yang hadir merasa seolah memasuki rumah keluarga yang penuh dengan kehangatan, dekat dan penuh penerimaan.
“Saya ingin, orang tuh datang kayak datang ke rumah saudaranya sendiri, lebih hangat, dan mereka bisa melihat budaya Batak dari sisi yang lebih lembut,” ucapnya saat diwawancarai oleh Femaledigest.
Menurut Kerri, budaya Batak sering kali mendapat stigma sebagai budaya yang keras. Melalui MAULIATE, ia ingin menghadirkan ruang yang memperlihatkan sisi lain yang sama pentingnya, yaitu kehangatan, keramahan, dan nilai kekeluargaan yang menjadi inti dari budaya Batak.
Pada MAULIATE, Tobatenun menyorot dua tenun popoler yang dibuat menggunakan teknik Jungkit, yaitu ulos Tumtuman dan ulos Sadum. Kerri menjelaskan kepada Femaledigest ulos Tumtuman dalam komunitas Batak adalah ulos paling mentereng yang awalnya dikenkan oleh laki-laki, namun seiring berkembangnya zaman, Tumtuman makin modern lewat kreasi set yang bisa dikenakan oleh perempuan.
Selanjutnya ada ulos Sadum berfungsi sebagai handehande, yaitu kain yang disampirkan pada bahu. Tenun ini menjadi kain populer pada proses mangulosi untuk parboru, yang berarti memakaikan ulos untuk para perempuan dalam bahasa Batak. Ulos ini identik dengan warna-warna cerah, seperti merah cerah arti sebagai simbol kebahagiaan.

Kolaborasi Lima Desainer Indonesia Berkarya dengan Wastra
Artisan tenun di tanah Batak mengenal teknik tenun songket dengan sebutan teknik Jungkit. tenun Jungkit dibuat dengan metode Pakan Tambah, yaitu menggandakan Pakan (benang horizontal yang bergerak) terhadap Lungsi (benang vertikal yang diam) untuk menghasilkan motif kain yang tampak menonjol.
Keahlian para Partonun (artisan tenun dalam bahasa Batak) dalam menerapkan teknik ini terlihat jelas pada dua tenun Batak paling populer, ulos Tumtuman dan ulos Sadum. Ragam tenun Jungkit tersebut kemudian dipresentasikan dalam padu padan kotemporer, mulai dari inovasi kebaya dan aplikasi payet bernapas adi busana ala Studio Jeje, hingga busana pria dalam siluet tegas koleksi Maison Obscura.
Pada ranah kolaborasi, desainer eksploratif Rinda Salmun hadir dengan tenun kontemporer reinterpretasi ulos Sadum yang digarap dengan kaidah mode dekontruksi yang menjadi ciri khas estetikanya. Karya Kantita turut memperkaya presentasi busana siap pakai, menampilkan tenun dengan motif yang terinspirasi ulos Mangiring dan rumah adat Batak (Jabu Bolon). Seluruh kain dikerjakan menggunakan teknik Jungkit pada Alat Tenun Bukan Mesin (ATBM), menegaskan jejak craftsmanship yang autentik.
Terakhir, untuk lini aksesori, Tobatenun menggandeng Lungsin dalam menciptakan rangkaian tas tangan yang anggun, sebuah sentuhan akhir yang menjaga kesinambungan estetika dari kain hingga aksesori.
| Sumber Foto: Tim Media Tobatenun
(Jurnalis: Yopi Saputra | Redaktur : Hanisah Sukmawati)