Akhir pekan kemarin Femaledigest berkesempatan bermain ke Galeri Demono. Galeri yang berada di kawasan jalan Surabaya, Menteng, Jakarta Pusat ini memang punya daya tarik sendiri, apalagi daerah ini sudah lama dikenal sebagai surganya pemburu barang unik dan antik.
Benar sekali, sepanjang jalan Surabaya Sobat Female bisa menemukan toko-toko dengan koleksi unik, mulai dari piringan hitam yang membawa nostalgia, mesin ketik tua yang estetik, aneka ragam produk fashion dengan karakter vintage, sampai lampu gantung kuno yang bikin suasana terasa time capsule.
Di tengah atmosfer klasik itu, Galeri Demono hadir sebagai ruang yang bukan hanya sebagai menyimpan cerita, tetapi juga menghadirkan pengalaman berbeda. Begitu melangkah masuk, suasana langsung berubah menjadi hangat, personal, dan terasa sangat hidup. Setiap sudut galeri mengajak kita menyusuri perjalanan panjang Dewi Motik Pramono, dari masa muda, karier, hingga kiprah besarnya di dunia seni, budaya dan pemberdayaan perempuan.
Siapa Dewi Motik Pramono?
Dewi Motik Pramono bukanlah nama sembarangan yang lewat begitu saja dalam sejarah fashion dan pemberdayaan perempuan di Indonesia. Dewi Motik lahir pada 10 Mei 1949. Ia adalah sosok perempuan Indonesia yang memiliki banyak peran dalam hidupnya. Ia mulai dikenal publik sejak usianya masih sangat muda. Dewi Motik menjadi salah satu juara dalam pemilihan None Jakarta 1968 saat itu usinya belum genap 20 tahun
Pada era 1970-an, Dewi Motik juga dikenal sebagai salah satu model paling menonjol. Puncaknya, ia meraih gelar Top Model 1974, sebuah pencapaian yang membuat namanya melambung dan mengukuhkan sebagai ikon fashion dan model pada masanya. Namun yang menarik, perjalanan kariernya tidak berhenti di panggung fashion.
Setelah sukses sebagai model, ia bergerak luwes ke berbagai bidang lain, seperti seni, bisnis, hingga menjadi aktivis sosial. Ia ingin membuktikan bahwa seoarang perempuan bisa memiliki spektrum peran yang luas, tanpa harus membatasi diri pada satu identitas. Dalam dunia bisnis, ia tampil sebagai sosok yang visioner. Sedangkan di dunia seni, ia tetap konsisten dengan kreativitasnya. Dan sebagai aktivis, ia lantang dalam isu permberdayaan perempuan Indonesia untuk percaya pada potensi diri.

Perjalanan panjang Dewi Motik memperlihatkan satu hal penting, yaitu perempuan tidak perlu memilih antara karier, seni, atau keluarga. Ia menunjukkan bahwa semua itu bisa berjalan berdampingan asal dijalani dengan keteguhan hati dan semangat untuk memberi dampak. Dengan segala pencapaian dan peran yang ia rangkul, Dewi Motik Pramono tampil bukan hanya sebagai figur publik, tapi sebagai inspirasi tentang bagaimana perempuan Indonesia bisa hadir seutuhnya, di panggung mana pun yang ingin ia pilih.
Salah satu pencapaian terbesar dalam hidup Dewi Motik adalah saat ia bersama sang kakak Kemala Motik mendirikan Ikatan Wanita Pengusaha Indonesia (IWAPI) tahun 1975. Langkah ini bukan hanya sebuah inisiatif organisasi, tetapi sebuah pernyataan lantang bahwa perempuan Indonesia berhak untuk mandiri secara ekonomi dan ikut andil dalam pembangunan bangsa dan berenagara.
IWAPI lahir sebagai wadah bagi perempuan Indonesia yang ingin berusaha, bertumbuh, dan berkarya tanpa batasan. Di bawah tangan dingin Dewi Motik, organisasi ini berkembang pesat menjadi jaringan besar yang membina ribuan pengusaha perempuan di berbagai daearah, dari kota besar hingga wilayah yang jauh dari pusat perhatian. Ia hadir bukan sekadar sebagai pendiri, tetapi sebagai penggerak yang membuka ruang bagi banyak perempuan untuk berani memulai usaha, mengembangkan potensi, dan meraih kesempatan yang sebelumnya terasa jauh untuk digapai.
Melalui IWAPI, Dewi Motik tidak hanya mendorong kemandirian ekonomi perempuan, tetapi juga membuktikan bahwa solidaritas dan pemberdayaan bisa tumbuh kuat ketika dipimpin oleh seseoarang yang benar-benar percaya pada kekuatan perempuan Indonesia.
Awal Mula Galeri Demono
Saking banyaknya kisah inspiratif yang selalu disandingkan pada sosok Dewi Motik Pramono, hingga akhirnya jejak langkahnya ingin terus diabadikan. Dari situlah kemudian lahir Galeri Demono. Adalah sebuah ruang yang dibuat dengan penuh cinta oleh kedua anaknya, yaitu Moza Pramita dan Adimaz.
Galeri Demono sendiri resmi dibuka untuk umum pada tahun lalu. Nama Demono diambil dari singkatan Dewi Motik Pramono, sebuah penghormatan sekaligus pengingat bahwa kisah hidup sang tokoh adalah pusat di ruang ini.
Sebagai seoarang seniman, penyair, pengusaha, Dewi Motik selalu mendokumentasikan perjalanan kariernya baik dalam bentuk buku harian, foto, dan koleksi benda. Ruang pertama bercerita tentang ruang linimasa yang lebih banyak menyimpan arsip berupa catatan pribadi, foto, dan korespondensi surat menyurat serta memorabilia sejak ia belia hingga kini.
Salah satu karya yang paling mencuri perhatian Femaledigest di dalam Galeri Demono adalah sebuah lukisan legendaries berjudul ‘The Last Virgin’. Karya ini dibuat oleh maestro seni rupa Indonesia, Basuki Abdullah, pada tahun 1975 tahun yang sama ketika Dewi Motik meraih gelar Top Model. Tak heran jika lukisan ini memiliki aura elegansi dan keanggunan yang begitu kuat, sentuhan tangan maestro terlihat dari setiap goresan yang halus dan hidup.

Namun, yang membuat lukisan ini semakin istimewa bukan hanya nilai seninya, melainkan juga cerita dibaliknya. Pada tahun 2005 ‘The Last Virgin’ sempat dicuri oleh seseorang yang justru orang yang dekat dengan keluarga. Saat itu peristiwa yang menjadi pukulan berat, mengingat nilai sentimental lukisan ini sangat besar bagi Dewi Motik Pramono. Beruntung, setelah melakukan upaya yang cukup panjang, lukisan tersebut akhirnya berhasil ditemukan.
Berjalan agak sedikit ke dalam, pengunjung akan menemukan sebuah ruangan yang terasa begitu hangat dan elegan. Di sini, terpajang koleksi kain-kain batik tulis karya maestro Iwan Tirta, kain-kain bersejarah yang dulu pernah menjadi bagian perjalanan karier seoarang Dewi Motik.
Di salah satu ruangan, terdapat sebuah area khusus yang tak kalah istimewanya. Rak-rak kayu rapi memamerkan deretan buku karya Dewi Motik, mulai dari tulisan-tulisannya tentang perempuan, kepemimpinan, hingga perjalanan hidup yang penuh makna.
Nah, ada lagi satu hal menarik yang ada di dalam galeri, yaitu ada area yang terasa sekali wangi harum bunga melati. Ternyata di sini terdapat beberapa botol parfum kesukaan Dewi Motik. Siapa sangka ternyata seorang Dewi Motik Pramono memakai parfum lokal yang jauh lebih sederhana dan surprisingly menggemaskan.
Di galeri ini, setiap sudutnya terasa seperti ajakan untuk mengenal lebih dekat dengan perempuan yang tak pernah berhenti berkarya. Setiap kain, lukisan, hingga halaman buku menjadi potongan puzzle yang merangkai sosok Dewi Motik Pramono yang elegan, tangguh, dan selalu setia pada misi besarnya untuk mengangkat martabat perempuan Indonesia.
| Sumber Foto: Tim Media Liputan 6
(Jurnalis: Yopi Saputra | Redaktur : Hanisah Sukmawati)