Oleh: Dr. Geofakta Razali | Pakar Psikologi Komunikasi, LSPR Jakarta
Sherly Tjoanda menjelaskan paradoks kepemimpinan modern: empati dan rasionalitas bukan dua kutub yang bertentangan, tapi dua sayap yang membuat kepemimpinan manusiawi bisa terbang, dari segala yang terpinggir, ia nyalakan perubahan.
Saya selalu tertarik pada perempuan yang tidak berjuang dengan teriakan, tapi dengan konsistensi. Sebagai seorang laki-laki yang sering menulis tentang pemberdayaan perempuan, saya belajar bahwa kekuatan sejati justru lahir dari keheningan, dari cara seseorang menghadapi dunia tanpa kehilangan kelembutan, meski dunia tak selalu memberinya ruang untuk lembut.
Nama Sherly Tjoanda, Gubernur Maluku Utara, adalah salah satu cerminan dari paradoks itu.
Ia hadir bukan sebagai sosok yang ingin menantang sistem, tapi sebagai seseorang yang perlahan membuktikan: kehadiran perempuan, apalagi dari kelompok minoritas, tidak perlu diperjuangkan dengan amarah, cukup dengan kinerja yang tak terbantahkan.
Dalam politik yang sering menuntut suara keras dan citra kuat, Sherly tampil dengan bahasa yang berbeda: bahasa ketenangan. Ia perempuan, Tionghoa, dan Protestan, tiga identitas yang secara sosiologis menempatkannya di pinggiran dalam lanskap politik Indonesia yang maskulin, mayoritarian, dan kerap homogen. Namun, justru dari pinggiran itulah, Sherly menumbuhkan cara memimpin yang berakar pada empati dan rasionalitas sekaligus.
Di bawah kepemimpinannya, Maluku Utara mencatat pertumbuhan ekonomi tertinggi di Indonesia pada kuartal II tahun 2025, mencapai 32,09% menurut BPS. Angka ini tidak hanya mencerminkan performa ekonomi, tapi juga transformasi sosial: bahwa kepemimpinan yang lembut bukan berarti lemah, dan bahwa kepekaan bisa berdampingan dengan efektivitas. Bagi saya, capaian itu bukan sekadar data makro, melainkan bentuk komunikasi politik paling jujur, ketika pesan tentang integritas disampaikan bukan lewat kata-kata, melainkan lewat hasil kerja yang nyata.
Dalam teori psikologi komunikasi, kita mengenal konsep transformational empathy, kemampuan untuk mengubah sistem sosial tanpa menciptakan pertentangan emosional. Sherly mewujudkan hal itu, ia tidak melawan sistem patriarki secara frontal, tetapi menggesernya dari dalam, dengan bahasa yang lebih halus dan logika yang lebih manusiawi.
Ia menjadikan kepemimpinan bukan tentang dominasi, tapi tentang resonansi: kemampuan membuat orang merasa dilibatkan, bukan diperintah. Mungkin di situ letak paradoks terindah dari kepemimpinan feminine, ia tidak perlu menaklukkan siapa pun untuk diikuti. Seperti air, ia tidak menabrak batu, tapi perlahan melunakkannya.
Banyak perempuan berjuang untuk diakui; Sherly melangkah hingga pengakuan itu menjadi tak perlu. Ia tidak menjadikan identitasnya sebagai isu politik, tapi menjadikannya ruang refleksi. Ia tahu bahwa keberagaman sejati bukan soal representasi di atas panggung, melainkan soal keberanian untuk membawa nilai diri ke dalam sistem yang belum tentu siap menerimanya.
Dalam teori social identity complexity (Roccas & Brewer, 2002), orang seperti Sherly punya keistimewaan langka, kemampuan menavigasi identitas jamak tanpa disonansi. Ia perempuan, tapi tidak menjual narasi penderitaan. Ia minoritas, tapi tidak memosisikan diri sebagai korban. Ia pemimpin, tapi tetap peka pada bahasa yang sunyi—bahasa masyarakat kecil, perempuan pesisir, dan warga yang mungkin tidak tahu bagaimana ekonomi bias tumbuh, tapi tahu bagaimana hidup harus berlanjut.
Prestasi Sherly menjadi semacam antitesis sosial di tengah budaya politik yang sering bising. Ketika banyak pejabat sibuk memoles citra, ia sibuk menata struktur. Ketika banyak tokoh mengejar legitimasi simbolik, ia memelihara kepercayaan publik lewat bukti empiris. Sherly seperti menjawab pertanyaan lama dalam filsafat politik: apakah kekuasaan selalu berarti jarak? Ia menjawab dengan praksis: tidak, selama kekuasaan dijalankan sebagai perpanjangan empati.
Sebagai laki-laki yang sering menulis tentang perempuan, saya belajar satu hal darinya: bahwa kekuatan bukanlah tentang siapa yang paling keras bersuara, melainkan siapa yang paling lama bertahan tanpa kehilangan arah. Sherly Tjoanda tidak hanya menunjukkan wajah baru kepemimpinan perempuan, tapi juga cara baru menjadi manusia, yang tidak reaktif terhadap luka identitas, tapi produktif dalam mengubahnya menjadi cahaya.
Di era ketika banyak orang ingin dikenal karena kata-katanya, Sherly memilih dikenang karena hasilnya. Ia minoritas yang tidak minta dimaafkan, perempuan yang tidak menjual luka, dan pemimpin yang mengingatkan kita: kadang, cara paling sunyi untuk melawan adalah dengan terus bekerja tanpa marah. Dan mungkin, di situlah kekuasaan paling murni tumbuh, bukan dari otot, bukan dari status, tapi dari ketenangan yang punya arah.
Pic Source: instagram.com/s_tjo
(Editor: Hanisah Sukmawati | Redaksi Female Digest)