Kemajuan berpikir dari dunia pendidikan menumbuhkan ekosistem dalam membudayakan kebiasaan baik dalam hidup anak. Memberikan pemahaman untuk semakin menyadari bahwa kompetensi anak terbentuk bukan sekadar dari acuan angka yang mana sebuah angka tersebut berbentuk peringkat nilai rapor, berapa banyak jumlah lulusan yang diterima di perguruan tinggi negeri atau sejauh mana sekolahan tersebut menduduki peringkat skala nasional atau internasional.
Pemikiran ini diangkat kembali oleh Intan Erlita, M.Psi., Psikolog dalam webinar pada 11 Juni 2025 bersama SMA IT Ar- Rahmah Tangerang dan Pesantren Tahfidz Ar-Rahmah Tangerang yang merupakan satu payung dengan Sari Asih Group. Inisiatif ini merupakan upaya kontribusi Sari Asih Grup untuk mencerdaskan bangsa melalui edukasi dan penyediaan sekolah berkualitas.

Dalam sesi webinar ini dipandu oleh Dini Fitria, Psikolog Intan Erlita memaparkan bahwa sekolah yang mendukung perkembangan anak melibatkan kecerdasan majemuk yang dimilikinya akan lebih efektif dalam mengembangkan kemampuan baik hard skills maupun soft skills dengan lebih fokus. Setidaknya, pada saat anak tidak mampu dalam satu mata pelajaran namun masih mampu dalam mata pelajaran lain, tidak terlalu dipaksakan harus menguasai semuanya. Dalam kondisi tersebut, guru tetap mengapresiasi dengan baik apa yang telah diupayakan anak didiknya. Namun, Psikolog Intan pun menekankan bahwa konsep ini tidak lantas mengabaikan mata pelajaran yang tidak dikuasainya, anak dapat mempelajari secara maksimal semua pelajaran dan dapat menguasai mana yang menjadi minatnya.
Keterampilan Abad 21 Menitikberatkan Untuk Mempersiapkan Hidup
Selanjutnya Psikolog Intan Erlita menyebutkan bahwa sekolah yang baik adalah sekolah yang mampu menciptakan lingkungan aman dan menerima siswa dengan segenap kelebihan dan kekurangannya tanpa terkecuali. Sekolah juga mampu menyediakan dukungan psikologis dan sosial bagi para siswa kapanpun dibutuhkan.
Era serba digital yang kompleks dengan berbagai perkembangan ilmu pengetahuan, melimpahnya informasi melalui berbagai platform, kemudahan aksesnya yang tak memungkinkan orang tua mengontrol sepenuhnya, membuat anak memerlukan bekal kemampuan yang melampaui akademis. Tujuannya agar anak siap menghadapi berbagai tantangan dalam lingkungan manapun. Termasuk dalam lingkungan sekolah, lingkungan rumah dan dunia kerja di masa depan.
Siswa yang dibekali kemampuan pemecahan masalah, berpikir kritis, menumbuhkan kreativitas, menguasai komunikasi efektif hingga luwes dalam berkolaborasi akan memberikan nilai tambah saat membawa diri dalam berbagai lingkungan dan berbagai situasi.
Menjadi Lulusan Berdaya
Lulusan yang siap menghadapi kehidupan bukan sekadar untuk bertahan hidup, Psikolog Intan Erlita mengatakan bahwa siswa yang lulus dari sekolah, disarankan menjadi pribadi utuh yang adaptif agar dapat bertahan dan memperkuat kapasitas diri sebagai upaya menjadi bermanfaat untuk dirinya sendiri dan berkontribusi bagi lingkungannya.
Siswa yang memiliki spirit kontribusi tinggi juga cenderung mudah menjadi problem solver yang tentu saja mampu mempermudah berbagai urusannya. Siswa yang memiliki soft skills selain mandiri juga dapat memupuk resiliensi dan keseimbangan emosionalnya.
Dalam sesi penutupnya, Psikolog Intan Erlita menekankan bahwa pendidikan anak yang berkualitas tidak tergantung pada sekolahan saja namun bimbingan dan pendampingan orang tua di rumah juga sangat menentukan proses belajar anak di sekolah. Kebiasaan-kebiasaan baik dari rumahnya dapat diaplikasikan pada saat menuntut ilmu di sekolahan. Jadi, pada saat anak bersekolah di manapun, sudah memiliki fondasi kuat dalam menanamkan karakter baiknya.
Orang tua mencari sekolah berkualitas untuk anak adalah suatu keharusan namun kendali utama tetap dari rumah dan tidak sepenuhnya diserahkan ke pihak sekolah untuk mendidiknya.