Bulan Februari kerap diasosiasikan dengan selebrasi cinta dan kasih sayang. Merespons momentum tersebut, jenama perhiasan Frank & co. menghadirkan pameran bertajuk Frankly, That’s Love Exhibition yang digelar di Atrium Mall Kelapa Gading 3, Jakarta, pada 11-22 Februari 2026. Pameran ini menghadirkan pengalaman yang lebih imersif, mengajak pengunjung untuk merayakan cinta dalam berbagai bentuk, baik untuk diri sendiri maupun orang terkasih.
Dalam wawancara eksklusif Female Digest dengan General Manager Frank & co., Rolly Soesanto, menjelaskan bahwa tema Franky, That’s Love dipilih karena selaras dengan filosofi brand yang memaknai cinta sebagai sebuah perjalanan panjang, penuh proses, pertumbuhan, dan komitmen yang terus dirawat dari waktu ke waktu.
“Cinta itu proses. Seperti natural diamond yang terbentuk miliaran tahun lalu di bawah tekanan yang sangat kuat. Sama seperti cinta,” ujar Rolly Soesanto.
Menghadirkan Pengalaman Interaktif yang Lebih Personal
Dalam pameran ini, pengunjung diajak menjelajahi sejumlah area yang dikurasi secara personal dan tematik. Setiap sudut dirancang untuk mempresentasikan fase-fase perjalanan cinta, mulai dari momen perkenalan, komitmen, hingga perayaan kebersamaan. Alhasil, pengunjung tidak hanya melihat deretan koleksi perhiasan dari Frank & co., tetapi juga merasakan narasi emosional yang ingin disampaikan.
Sobat Female, salah satu yang mencuri perhatian adalah Engraved Area. Di sini, pengunjung dapat mempersonalisasi bracelet dengan pilihan charm sesuai dengan preferensi masing-masing, menjadikannya lebih dari sekadar perhiasan, tetapi juga simbol yang merekam cerita personal. Menarik, ya?
Tak berhenti di situ, tersedia pula fasilitas pengukuran jari secara langsung untuk membantu para calon pembeli dalam mengukur ukuran cincin yang tepat, mengingat perhiasan punya detail yang kecil dan sering kali krusial.

Koleksi Kolaborasi dan Narasi di Baliknya
Frankly, That’s Love Exhibition turut menampilkan sejumlah koleksi perhiasan hasil kolaborasi yang memperkaya narasi tentang cinta dalam perspektif yang lebih personal. Salah satunya adalah See The Light Collection, kolaborasi antara Frank & co. dengan Maudy Ayunda, Brand Ambassador sekaligus Creative Director untuk lini tersebut. Tahun ini, Frank & co. Kembali menghadirkan interpretasi baru tentang ekspresi diri lewat peluncuran “Meant for Me”, alphabet charm terbaru dari See the Light Collection. Hasil kolaborasi ini ditampilkan dalam area khusus dengan konsep visual yang hangat.
Mengusung semangat personalisasi, “ Meant for Me” dirancang sebagai simbol kedekatan yang intim, tentang inisial, makna, dan cerita yang ingin dirayakan setiap individu. Bukan sekadar perhiasan, tetapi refleksi identitas yang dikenakan dengan penuh kesadaran.
“Bulan ini adalah bulan sejarah karena banyak perayaan cinta. Ada Valentine, ada Imlek sebagai bentuk kasih sayang kepada keluarga, dan juga bulan suci Ramadan sebagai bentuk kecintaan kita kepada Tuhan,” ujar Rolly Soesanto, General Manager Frank & co.
Beragam makna cinta yang hadir dalam berbagai momen tersebut menjadi latar belakang dihadirkannya pameran ini. Lewat pameran ini, Frank & co. ingin menghadirkan bentuk apresiasi kepada pelanggan yang selama ini menemani perjalanan brand, sekaligus hadir dalam momen-momen berharga mereka melalui perhiasan berlian alami Frank & co.

Bunga Lili dan Makna Cinta
Salah satu elemen visual menarik yang dihadirkan dalam pameran ini adalah bunga lili untuk mempresentasikan cinta. Bunga lili akrab dimaknai sebagai simbol cinta yang tulus, kemurnian, dan harapan yang terus bertumbuh. Dalam konteks perayaan kasih sayang, kehadirannya bukan sekadar elemen estetis, melainkan representasi emosi yang lembut yang kuat tentang kesetiaan, penghormatan, serta niat naik yang dirawat seiring waktu.
Menurut Rolly, bunga kerap memiliki kemelekatan yang kuat dengan ekspresi cinta. Maka dari itu, simbol bunga lili dihadirkan sebagai representasi cinta yang dikemas secara artistic dan kekinian.
“Bunga lili ini kita simbolkan cinta dengan bunga yang dikemas dalam satu cangkir, jadi cangkir yang penuh cinta,” ujarnya.
Kelas Art Journaling Sebagai Ruang Ekspresi yang Reflektif
Selain menikmati rangkaian pameran, rekan-rekan media yang hadir juga diajak untuk mengikuti sesi art journaling. Adalah sebuah kelas kreatif yang menghadirkan pengalaman lebih personal dan reflektif.

Art journaling merupakan metode pembuatan buku harian visual yang menggabungkan ekspresi diri lewat tulisan dan elemen seni rupa seperti kolase, cat, hingga sketsa, tanpa aturan baku. Fokus utamanya bukan pada hasil akhir yang sempurna, melainkan pada proses yang terapeutik, yaitu memberi ruang untuk melepaskan emosi, memahami perasaan, dan mengeksplorasi kreativitas secara jujur.
Dalam sesi ini, para peserta diminta membaca sejumlah petunjuk yang telah disiapkan. Dari sana, mereka merefleksikan apa yang dirasakan, lalu menuangkannya dalam bentuk tulisan maupun ilustrasi di atas kertas yang telah disediakan. Sebuah proses sederhana, namun serat makna, sejalan dengan pesan tentang cinta yang dimulai dari memahami diri sendiri.
Terakhir, pameran ini tak hanya menjadi perayaan romantisme di bulan penuh kasih, tetapi juga ruang untuk merayakan cinta dalam spektrum yang lebih luas kepada pasangan, keluarga, sahabat, hingga diri sendiri.
| Sumber Foto: Tim Frank & co.
(Jurnalis: Yopi Saputra | Redaktur : Hanisah Sukmawati)