Satu Dekade Female Digest, Mengangkat Suara Perempuan Menginspirasi Perubahan

Selama sepuluh tahun terakhir, dunia digital perempuan Indonesia telah mengalami perubahan yang luar biasa. Di tengah perkembangan tersebut, Female Digest hadir sebagai salah satu wadah yang tidak hanya menjadi sumber informasi, tetapi juga membangun komunitas, membuka ruang diskusi, dan mendorong perempuan untuk saling terhubung melalui berbagai pengalaman hidup.

Perayaan satu dekade Female Digest menjadi momentum penting untuk menengok kembali perjalanan panjang yang telah dilalui. Sebuah perjalanan yang dimulai dari langkah-langkah kecil, penuh semangat, dan keyakinan bahwa perempuan membutuhkan ruang yang aman untuk berbagi cerita, bertumbuh, dan saling menginspirasi.

Tahun ini, Female Digest merayakan satu dekade perjalanan dengan mengangkat tema “Women’s Voices Shaping the Future Celebrating 10 Years of Female Digest”. Acara perayaan ini diselenggarakan di Gedung Kementerian Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak (KPPPA), Jakarta Pusat, dan menghadirkan sosok-sosok inspiratif dari berbagai bidang.

Para pembicara yang hadir antara lain Irjen Pol (Purn) Desy Andriani, Feriani Chung (CMO ZAP) dr. Rooshardianti S, MBA., (Vice President and  Business Development PT PELNI), Ani Berta, S.I.kom., M.I.kom., (Founder Female Digest), dan Hanisah Sukmawati, S.E. (Editor in Chief Female Digest).

Sebelum memulai sesi diskusi Ani Berta membagikan kisah yang menjadi bagian penting dari lahirnya Female Digest. Ia menceritakan bahwa perjalanan tersebut bermula dari sebuah acara yang diselenggarakan oleh Kementerian Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak (KPPPA) di Yogyakarta.

Saya terinsipirasi oleh sebuah jurnal perempuan yang secara konsisten menyuarakan isu pemberdayaan gender, sebuah ide muncul secara spontan. Tanpa rencana panjang yang rumit, saya langsung membuka laptop, membeli domain serta hosting, menulis artikel pertama, dan meluncurkan akun media sosial”, ujar Ani Berta.

Pada tanggal 6 Juni 2016, langkah sederhana tersebut menjadi tonggak lahirnya sebuah platform yang kini dikenal luas sebagai Female Digest. Berawal dari semangat untuk menghadrikan ruang bagi perempuan Indonesia untuk berbagi cerita, memperoleh informasi, dan saling menginspirasi, Female Digest terus berkembang menjadi komunitas digital yang relevan dan dekat dengan kebutuhan perempuan masa kini.

Pada masa-masa awal perjalanannya, Female Digest diibaratkan seperti seorang anak kecil yang penuh rasa ingin tahu. antusias, dan memiliki semangat yang menggebu-gebu untuk belajar. ‘Anak Kecil’ ini selalu ingin hadir di berbagai tempat, mulai dari melakukan reportase diberbagai acara, mengunjungi berbagai institusi, hingga menghadiri beragam kegiatan komunitas.

Dengan rasa ingin tahu yang besar, Female Digest terus mencari pengalaman dan pembelajaran baru. Ada satu cita-cita yang selalu dibawa sejak awal, yaitu tumbuh menjadi media online perempuan yang mampu memberikan dampak positif bagi banyak orang.

Namun, seiring berjalannya waktu, Ani Berta menyadari bahwa realitas industri media tidaklah sederhana. Bersaing secara langsung dengan media-media besar yang telah memiliki sumber daya dan jangkauan luas bukanlah pilihan yang realistis bagi Female Digest.

Kesadaran tersebut justru menjadi titik penting dalam perjalanan Female Digest. Alih-alih memaksakan diri untuk berada di jalur yang sama dengan para raksasa media, Female Digest memilih mengambil langkah strategis dengan mencari identitas dan kekuatannya sendiri.

Dari sinilah lahir keputusan untuk bertansformasi menjadi media online perempuan berbasis komunitas. Fokusnya tidak lagi sekadar menyajikan informasi, tetapi juga membangun ruang yang memungkinkan perempuan untuk saling terhubung, berbagi pengalaman, dan bertumbuh bersama.

Diskusi kemudian berlanjut bersama Feriani Chung, atau yang akrab disapa Ibu Fe. Dalam sesi tersebut, Ani Berta selaku moderator menanyakan bagaimana dirinya menghadapi dinamika dalam memimpin tim yang didominasi oleh generasi Z, sekaligus mampu menciptakan lingkungan kerja yang inklusif dan setara bagi semua anggota tim.

Menanggapi pertanyaan tersebut, Ibu Fe menjelaskan bahwa dirinya tidak melihat perbedaan generasi sebagai sebuah hambatan. Menurutnya, setiap generasi memiliki karakteristik dan kekuatan yang berbeda-beda.

Kalau sekarang banyak yang mengeluh  generasi Z ini atau seperti itu, lalu membandingkannya dengan milenial, Gen X, atau baby boomers. Namun bagi saya, setiap generasi memiliki keunggulannya masing-masing. Jadi sebenarnya tidak ada yang lebih baik dan lebih buruk,” ujarnya.

Ia menambahkan bahwa perbedaan terbesar antara generasi yang lebih senior dan generasi Z terletak pada pengalaman hidup yang dimiliki. Generasi yang lebih tua banyak tantangan dan memiliki pengalaman yang lebih beragam, sementara generasi Z hadir dengan perspektif dan cara pandang baru yang juga patut dihargai.

Sebagai seoarang pemimpin, Ibu Fe percaya bahwa kunci utama dalam menjembatani perbedaan generasi adalah kemauan untuk memahami terlebih dahulu sebelum ingin dipahami. Menurutnya, seorang pemimpin perlu berusaha melihat dunia dari sudut pandang generasi yang dipimpinnya.

Ia mencoba memahami bagaimana generasi Z memandang kehidupan, karier, dan pekerjaan. Sebab, bagi Ibu Fe, pekerjaan bukanlah sesuatu yang terpisahkan dari kehidupan, melainkan bagian yang tidak dapat dipisahkan dari keseharian seseorang. 

Saya harus belajar mengerti dulu point of view mereka. Saya tidak bisa memaksakan point of view saya kepada mereka, karena itu tidak akan sampai,” jelasnya.

Sesi berikutnya menghadirkan dr. Rooshardianti, MBA, yang membahas pentingnya keberagaman gender dan peran perempuan dalam kepemimpinan. Dalam pemaparannya, ia mengajak para Sobat Female yang hadir untuk lebih percaya diri mengambil peran sebagai pemimpin di berbagai bidang.

Menurut dr. Rooshardianti, keberagaman gender, kususnya kehadiran perempuan di posisi strategis kepemimpinan, membawa banyak manfaat bagi organisasi. Perempuan dinilai memiliki kontribusi yang signifikan dalam menciptakan pengambilan keputusan yang lebih efektif, mendorong inovasi, memperkuat tata kelola organisasi, serta menghasilkan kinerja jangka panjang yang lebih baik.

Menariknya, pandangan tersebut tidak hanya berdasarkan pengalaman, tetapi juga didukung oleh berbagai hasil penelitian. Salah satunya adalah riset yang dilakukan oleh McKinsey & Company terhadap sejumlah Perusahaan multinasional di berbagai negara. Hasil penelitian tersebut menunjukkan bahwa perusahaan yang memiliki keberagaman gender yang tinggi pada level eksekutif mampu mencatatkan profitabilitas hingga 25 persen lebih tinggi dibandingkan perusahaan yang tidak memiliki representasi perempuan yang memadai dalam jajaran kepemiminannya.

Selain itu, penelitian lain juga menemukan bahwa perusahaan yang memiliki setidaknya satu perempuan di Tingkat direksi cenderung menunjukkan kinerja yang lebih baik. Hal ini terlihat dari peningkatan return of equity (ROE) serta pertumbuhan laba bersih yang lebih tinggi dibandingkan perusahaan yang tidak memiliki keberagaman gender di Tingkat pengambilan keputusan.

Bagi dr. Rooshardianti, temuan-temuan tersebut menjadi bukti bahwa peremuan tidak hanya mampu memimpin, tetapi juga dapat memberikan dampak yang nyata bagi kemajuan organisasi. Karena itu, ia mendorong para perempuan untuk tidak ragu mengambil kesempatan dan tanggung jawab sebagai pemimpin.

Saya ingin mengajak teman-teman di sini untuk tidak ragu menjadi seoarang leader. Yakinlah, ketika perempuan diberi ruang untuk maju dan berkembang, maka organisasi juga akan maju. Bahkan lebih jauh lagi, perempuan dapat membawa kemajuan bagi bangsa,” ujarnya.

Diskusi kemudian berlanjut bersama Hanisah Sukmawati, atau yang akrab disapa Mba Hani, Editor in Chief Female Digest. Sebagai bagian dari Female Digest sejak tahun 2016, Mba Hani menyaksikan secara langsung bagaimana dunia media, khususnya media yang mengangkat isu perempuan, mengalami perubahan yang sangat signifikan dalam satu dekade terakhir.

Menurutnya, pada tahun itu belum banyak media perempuan yang berani secara konsisten mengangkat berbagai isu yang dekat dengan kehidupan perempuan. Saat itu, Sebagian besar media perempuan masih berfokus pada topik-topik seputar fesyen, kecantikan, dan gaya hidup.

Namun, seiring berjalannya waktu, ruang diskusi mengenai isu-isu yang sebelumnya dianggap tabu mulai terbuka. Berbagai istilah seperti anxiety, Kesehatan mental, dan isu kesejahteraan emosional mulai lebih sering dibicarakan di ruang publik.

Padahal menurut Mba Hani, persoalan tersebut sebenarnya telah lama dialami oleh banyak perempuan. Hanya saja, tidak semua orang memiliki keberanian atau ruang aman untuk membicarakannya. Banyak yang memilih memendam perasaannya sendiri, baik karena rasa malu, takut dihakimi, maupun karena tidak tahu harus mencari bantuan ke mana.

Banyak yang sebenarnya sedang berjuang, tetapi tidak tahu harus berbicara sama siapa, mereka membutuhkan pertolongan, tetapi bingung harus mencari dukungan ke mana,” ungkapnya.

Kondisi inilah yang semakin menguatkan keyakinan ia untuk bersama Ani Berta membangun Female Digest sebagai ruang yang tidak hanya menyajikan informasi, tetapi juga menjadi jembatan bagi perempuan untuk menyuarakan pengalaman dan keresahan mereka.

Sumber Foto: Doc. Female Digest

(Jurnalis: Yopi Saputra | Redaktur : Hanisah Sukmawati)