Ketika Bedah Robotik Mengembalikan Waktu untuk Perempuan

“Kalau saya harus operasi, siapa yang akan mengurus semuanya?”

Bagi banyak perempuan, pertanyaan itu sering kali menjadi kekhawatiran terbesar ketika dokter menyarankan tindakan operasi. Bukan karena takut memasuki ruang bedah, melainkan karena membayangkan waktu pemulihan yang panjang dan berbagai peran yang harus ditinggalkan sementara.

Di tengah keseharian sebagai profesional, ibu, istri, atau anak, banyak perempuan menjalankan lebih dari satu tanggung jawab sekaligus. Tak sedikit yang menunda pemeriksaan maupun operasi karena khawatir tidak bisa bekerja, mengurus keluarga, atau mendampingi orang-orang terdekat selama masa pemulihan.

Perkembangan teknologi bedah robotik kini mulai mengubah cara pandang tersebut. Fokusnya bukan lagi sekadar keberhasilan tindakan operasi, tetapi juga bagaimana pasien dapat pulih lebih cepat sehingga bisa kembali menjalani aktivitas dan kualitas hidupnya.

Pesan inilah yang menjadi benang merah dalam Siloam Robotic Summit 2026 bertajuk Transforming Surgery Through Robotics, Advancing Precision Across Surgical Disciplines. Melalui forum yang diselenggarakan pada 18 Juli 2026 di Ritz Carlton Mega Kuningan ini, Siloam International Hospitals memperlihatkan bahwa inovasi bedah robotik bukan hanya tentang menghadirkan teknologi yang lebih canggih, tetapi juga membangun ekosistem layanan yang mampu memberikan manfaat nyata bagi pasien melalui tindakan yang lebih presisi, lebih aman, dan pemulihan yang lebih optimal. 

Bukan Robot yang Menggantikan Dokter

Selama satu tahun terakhir, Siloam telah mengoperasikan tujuh sistem bedah robotik di Jakarta, Surabaya, Bali, dan Makassar. Pengembangan layanan ini tidak hanya mencakup Da Vinci Xi, tetapi juga berbagai teknologi bedah robotik untuk sejumlah disiplin ilmu, seperti urologi, bedah digestif, obstetri dan ginekologi, serta ortopedi, termasuk operasi penggantian sendi lutut (robotic knee arthroplasty). Siloam Hospitals Kebon Jeruk juga dikembangkan sebagai Center of Robotic & Minimally Invasive Surgery yang telah menangani lebih dari 100 prosedur bedah robotik bersama tim dokter bedah robotik tersertifikasi.

Meski dikenal sebagai robotic surgery, sistem bedah Da Vinci Xi dan sistem bedah robotic lainnya yang dikembangkan oleh Siloam International Hospitals tidak bekerja secara otomatis. Seluruh tindakan tetap sepenuhnya dikendalikan oleh dokter bedah. Robot berfungsi membantu menerjemahkan setiap gerakan tangan dokter dengan tingkat presisi yang lebih tinggi melalui lengan robotik dan kamera tiga dimensi beresolusi tinggi, sehingga memungkinkan tindakan minimal invasif dengan sayatan yang lebih kecil.

Manfaatnya tidak hanya dirasakan di ruang operasi, tetapi juga selama proses pemulihan.

Hal ini diperkuat oleh COMPARE Study yang dipublikasikan dalam Annals of Surgery pada 2025. Penelitian tersebut menunjukkan bahwa penggunaan sistem Da Vinci Xi membuat pasien menjalani rawat inap hampir dua hari lebih singkat, menurunkan risiko komplikasi pascaoperasi sebesar 44 persen, serta mengurangi risiko kematian dalam 30 hari sebesar 46 persen dibandingkan operasi konvensional. Jika dibandingkan dengan laparoskopi, teknologi ini juga menurunkan risiko konversi menjadi operasi terbuka hingga 56 persen serta mengurangi komplikasi pascaoperasi sebesar 10 persen. 

Manfaat bedah robotik juga dirasakan Sutinah Irsan, pasien operasi penggantian sendi lutut melalui bedah sistem robotik di Siloam Hospitals Kebon Jeruk. Ia mengaku dapat bergerak lebih cepat setelah operasi dengan proses pemulihan yang lebih nyaman. Pengalaman tersebut melengkapi berbagai temuan klinis bahwa pendekatan bedah robotik tidak hanya meningkatkan presisi tindakan, tetapi juga mendukung pemulihan pasien agar dapat kembali menjalani aktivitas sehari-hari.

Ketika Pemulihan Menjadi Bagian dari Kualitas Hidup Perempuan

Bagi banyak perempuan, masa pemulihan setelah operasi tidak hanya berkaitan dengan kondisi fisik. Ada berbagai tanggung jawab yang tetap menunggu, mulai dari pekerjaan, keluarga, hingga urusan rumah tangga. Karena itu, tidak sedikit perempuan yang menunda tindakan medis karena khawatir harus berhenti beraktivitas terlalu lama.

Padahal, sejumlah kondisi seperti miom, endometriosis, kista ovarium, hingga beberapa kasus kanker ginekologi membutuhkan penanganan yang tepat waktu agar tidak berkembang menjadi lebih kompleks.

Inge Samadi – Executive Director Siloam Hospitals Kebon Jeruk

Menurut Inge Samadi, Executive Director Siloam Hospitals Kebon Jeruk, perkembangan bedah robotik memberikan harapan baru, khususnya bagi pasien perempuan yang membutuhkan tindakan obstetri dan ginekologi.

“Selama ini kami melihat banyak pasien perempuan yang menjalani prosedur ginekologi menggunakan sistem Da Vinci Xi memperoleh manfaat berupa proses pemulihan yang lebih cepat. Hal ini menjadi sangat berarti karena banyak perempuan saat ini menjalankan berbagai peran sekaligus—sebagai profesional, ibu, maupun pengelola keluarga. Dengan masa pemulihan yang lebih singkat, mereka dapat kembali beraktivitas lebih cepat tanpa harus menjalani masa pemulihan yang panjang setelah operasi,” ujar Inge Samadi.

Ia menjelaskan bahwa manfaat tersebut berasal dari pendekatan bedah minimal invasif yang membantu mengurangi trauma pada jaringan tubuh, sehingga pasien dapat menjalani proses pemulihan dengan lebih nyaman sesuai kondisi klinis masing-masing. Meski demikian, Inge menegaskan bahwa penggunaan bedah robotik tetap ditentukan berdasarkan indikasi medis dan penilaian dokter terhadap kebutuhan setiap pasien.

Kemajuan teknologi, lanjutnya, juga perlu diimbangi dengan kesiapan sumber daya manusia dan standar pelayanan yang kuat agar manfaatnya dapat dirasakan secara optimal.

Pandangan tersebut sejalan dengan dr. Astrid Fransisca Padang, Sp.OG, Subsp. KFM, Ketua IDI Jakarta Barat. Menurutnya, perkembangan teknologi robotik harus dibarengi dengan pembinaan, pengawasan, quality control, dan evaluasi klinis yang berkelanjutan.

“Teknologi robotik akan terus berkembang, tetapi implementasinya harus diiringi dengan sistem pembinaan, pengawasan, quality control, hingga pengujian yang menyeluruh agar keamanan dan kualitas layanan tetap terjaga. Di sinilah peran organisasi profesi menjadi penting. Melalui Siloam Robotic Summit 2026, kami melihat lahirnya sebuah ekosistem kolaboratif yang mampu memperkuat pengembangan bedah robotik di Indonesia, sekaligus memastikan teknologi ini dimanfaatkan secara bertanggung jawab demi keselamatan pasien,” jelas Dr. Astrid.

Menurutnya, keberhasilan bedah robotik tidak hanya ditentukan oleh kecanggihan teknologi, tetapi juga oleh kolaborasi antara rumah sakit, organisasi profesi, akademisi, regulator, dan industri dalam membangun ekosistem layanan yang aman, berkualitas, dan berkelanjutan.

Membangun Masa Depan Bedah Robotik di Indonesia

Keberhasilan bedah robotik tidak hanya ditentukan oleh kecanggihan teknologi, tetapi juga oleh kesiapan tenaga medis, tata kelola klinis, serta kolaborasi yang berkelanjutan. Inilah pendekatan yang dikembangkan Siloam International Hospitals melalui pembangunan ekosistem bedah robotik di Indonesia.

Selama satu tahun terakhir, Siloam telah mengoperasikan tujuh sistem bedah robotik di Jakarta, Surabaya, Bali, dan Makassar. Siloam Hospitals Kebon Jeruk juga dikembangkan sebagai Center of Robotic & Minimally Invasive Surgery, yang hingga kini telah menangani lebih dari 100 prosedur bedah robotik bersama tim dokter bedah robotik tersertifikasi. 

Caroline Riady – CEO Siloam International Hospitals menyampaikan sambutan
dalam acara Siloam Robotic Summit 2026

Menurut Caroline Riady, Chief Executive Officer Siloam International Hospitals, transformasi layanan kesehatan tidak berhenti pada investasi teknologi.

“Dalam satu tahun terakhir, kami tidak hanya menghadirkan teknologi bedah robotik, tetapi membangun sebuah ekosistem yang memungkinkan teknologi tersebut memberikan manfaat nyata bagi pasien. Hal ini mencakup investasi pada pengembangan kompetensi dokter, tata kelola klinis, penelitian, dan budaya pembelajaran yang berkelanjutan.”

dr. Grace Frelita, MM – Chief Medical Officer, Siloam International Hospitals

Komitmen tersebut diperkuat melalui evaluasi klinis internal. dr. Grace Frelita, MM, Chief Medical Officer Siloam International Hospitals, menjelaskan bahwa pasien operasi lutut berbantuan robot menjalani rata-rata rawat inap 4,5 hari, lebih singkat dibandingkan 6,2 hari pada operasi konvensional. Evaluasi tersebut juga menunjukkan 0 persen angka infeksi dan 0 persen readmisi dalam 30 hari, yang semakin memperkuat bukti bahwa teknologi robotik mampu mendukung tindakan yang lebih presisi sekaligus mempercepat pemulihan pasien. 

Upaya ini juga mendapat dukungan dari pemerintah. dr. Yanti Herman, SH, MH.Kes, Direktur Pengembangan Pelayanan Kesehatan Rujukan Kementerian Kesehatan RI, menilai bahwa penguatan kompetensi tenaga kesehatan, pemanfaatan teknologi, dan kolaborasi lintas sektor merupakan fondasi penting untuk menghadirkan layanan kesehatan yang semakin aman, presisi, dan berkualitas bagi masyarakat.

“Inovasi bedah robotik tidak hanya mendorong kemajuan praktik bedah modern, tetapi juga memperkuat kapabilitas sistem kesehatan nasional agar masyarakat dapat mengakses layanan berstandar global lebih dekat dengan rumah.”

Mengembalikan Waktu, Mengembalikan Kualitas Hidup

Pada akhirnya, kemajuan teknologi kesehatan tidak hanya diukur dari seberapa canggih perangkat yang digunakan di ruang operasi. Nilainya terletak pada bagaimana inovasi tersebut mampu memberikan manfaat nyata bagi pasien.

Bagi perempuan yang menjalankan banyak peran, pemulihan yang lebih cepat berarti kesempatan untuk kembali bekerja, mendampingi keluarga, dan menjalani aktivitas tanpa harus mengorbankan waktu lebih lama untuk proses penyembuhan.

Bedah robotik tentu bukan solusi untuk semua kondisi medis. Namun ketika digunakan pada pasien yang tepat, dengan indikasi yang sesuai dan didukung tenaga medis yang kompeten, teknologi ini membuka peluang untuk menghadirkan pengalaman operasi yang lebih baik sekaligus meningkatkan kualitas hidup pasien.

Karena pada akhirnya, tujuan terbesar inovasi kesehatan bukan sekadar menghadirkan teknologi paling canggih, tetapi membantu setiap orang kembali menjalani kehidupannya. Bagi banyak perempuan, itu berarti memiliki lebih banyak waktu untuk pulih, lebih banyak kesempatan untuk kembali berkarya, dan lebih banyak momen berharga bersama orang-orang yang mereka cintai.