Memasuki tahun ke-21, My BCA Java Jazz Festival menjadi lebih dari sekadar konser musik. Selama dua dekade, festival jazz terbesar di Indonesia ini konsisten menghadirkan harmoni antara musisi internasional kelas dunia dan talenta terbaik Indonesia, menyatukan pecinta musik dari berbagai penjuru dunia. Tahun ini, festival yang berlangsung tiga hari yaitu 29–31 Mei 2026, menempati rumah baru di Nusantara International Convention Exhibition (NICE), PIK 2.
My BCA Java Jazz Festival 2026 hari pertama mempertemukan legenda jazz lokal, bintang internasional, dan menghadirkan momen-momen yang mengharukan dari sederet nama yang sudah tidak asing lagi di dunia musik. Ada Trio Lestari, Mahalini, Ruth Sahanaya, Dira Sugandi dan beberapa musisi mancanegara seperti Incognito, Lisa Simone Quartet serta Harbourside Jazz dari Australia yang menemani para penyanyi di segmen “Y2K Rewind” dengan lagu-lagu millennial.
Barry Likumahuwa: 20 Years of Bassline
Di Hall Telkomsel Halo, perjalanan 20 tahun karier Barry Likumahuwa dirayakan dengan cara yang paling personal. Show bertajuk “20 Years of Bassline” ini dibuka dengan penampilan solonya. Kemudian, kenangan demi kenangan mulai terurai dari petunjukan yang dibawakan musisi kelahiran 14 Juni 1983. Barry membawakan lagu Good Spell, yang seharusnya dibawakan bersama sang ayah, legenda jazz Indonesia, almarhum Benny Likumahuwa.

Barry tak sendiri di atas panggung. Sahabat-sahabat dari Barry Likumahuwa Project (BLP) turut hadir dan ikut bernostalgia membawakan lagu “Twitter Jam” dan “Saat Kau Milikku”. Lagu-lagu yang dibawakan mengenang pemain saxophone BLP yang berpulang di tahun sebelumnya, Dennis Junio. Di panggung My BCA Java Jazz Festival hari pertama Tommy Pratomo menggantikan posisi saxophone, dibantu oleh Nicky Manuputty. Kenangan berlanjut ketika lagu “menunggu” featuring almarhum Glenn Fredly dibawakan. Melihat video kilas balik yang ditayangkan di layar panggung, Barry mengenang masa-masa BLP bisa naik panggung pensi. Meskipun saat ini Barry Likumahuwa lebih banyak menggunakan nama personal, BLP tetap memiliki spot spesial di hatinya.
The Groove: Tribute untuk Yovie, Rumah untuk Tiara
Di Hall Teh Botol Sosro Live, The Groove berkolaborasi dengan Bandung Jazz Orchestra dalam sebuah penghormatan istimewa bertajuk “The Yovie Widianto’s Songbook”. Yovie Widianto bukan sekadar pencipta lagu, melainkan sosok yang telah menemani perjalanan The Groove sejak band asal Bandung ini lahir, hampir 29 tahun lalu. Lagu-lagu ikoniknya seperti Cantik, Kekasih Sejati, Mantan Terindah, hingga Setahun Kemarin dibawakan dengan aransemen Bandung Jazz Orchestra yang memukau.
Momen paling berkesan malam itu justru datang saat vokalis Reza mengumumkan kejutannya di atas panggung, bahwa Tiara Effendi resmi menjadi vokalis tetap The Groove. Setelah empat tahun berduet bersama band ini sebagai featuring di beberapa lagu seperti Berbunga-bunga dan Lebih Indah,Tiara akhirnya mendapatkan rumah. Pengumuman ini disambut tepuk tangan meriah penonton.

Dwiki Dharmawan: Ketika Jazz Bertemu Jiwa Indonesia
Tonggak diplomasi budaya yang menyatukan musisi lintas negara, tertuang dalam perjalanan musikal melalui karya-karya Dwiki Dharmawan dari album Anagnorisis dan Pasar Klewer. Dibuka dengan dua lagu: Toledo Trane dan Gambang Ney, kolaborasi antara vokal suling dari Bang Saad, kendang Cucu Kurnia, serta musisi internasional seperti Kuba Skowroński dari Polandia di saxophone, menjadi salah satu wujud nyata kolaborasi internasional di hari pertama festival. Lagu-lagu seperti Pacu Jawi, Frog Dance, dan Jazz for Freeport hadir dengan warna etnik yang kental, membuktikan bahwa jazz Indonesia punya suara yang unik dan berdiri tegak di panggung dunia.
Jon Batiste: Special Show yang Paling Ditunggu
Puncak kemeriahan hari pertama tak lain adalah penampilan special show Jon Batiste di panggung MYBCA. Peraih delapan Grammy Award ini dikenal sebagai musisi yang melampaui batas genre, dari jazz, soul, hingga pop. Selain karier musiknya yang gemilang, Jon Batiste juga dikenal sebagai komposer film, termasuk menggarap skor untuk film Saturday Night (2024). Kehadirannya di panggung Java Jazz membawa kesan tersendiri, sebuah perayaan musikal yang disambut oleh antusiasme penonton.

My BCA Java Jazz Festival 2026 baru saja dimulai, dan hari pertamanya saja sudah menghadirkan begitu banyak cerita. Siapa bilang jazz itu membosankan? My BCA Java Jazz Festival 2026 sudah membuktikan sebaliknya.
| Sumber Foto: Doc. Female Digest
(Jurnalis: Ruth Ninajanty | Redaktur : Hanisah Sukmawati)